Kebahagiaan hanyalah hayalan yang datang seperti angin

Kebahagiaan hanyalah hayalan yang datang seperti angin

 


Ketika diriku menghadapi kenyataan
yang melukai hati dan menghadirkan kekhawatiran,
ada kepahitan yang tak sanggup kutatap.
Mataku tak mampu berkata,
“Berilah aku satu kenyamanan darimu,”
agar aku tak larut dalam kesedihan
seolah topeng adalah satu-satunya tempat berlindung.

Kebahagiaan hanyalah hayalan
yang datang seperti angin,
lalu pudar bersama hembusannya.
Aku menginginkan kenyamanan,
agar aku tetap berada di dunia nyata
dalam setiap detiknya.

Sulit bagiku menemukan dunia yang nyaman,
yang mampu menuntunku pada hati yang tenang.
Aku tak sanggup lagi melihat kenyataan.
Aku tidak kuat.
Aku merasa sakit—
luka seperti goresan pisau yang tajam.

Aku ingin pergi dari kenyataan ini,
entah ke mana.
Ataukah aku harus melupakan segalanya
untuk menjalani hidup yang baru?

Kumohon,
izinkan aku melihat gelap menjadi terang.
Jangan bawa aku ke dalam kesiksaan,
biarkan aku merasakan kebahagiaan
yang tak pernah pudar.

Aku ingin mereka menerimaku apa adanya,
karena aku ingin membangunnya
bersama mereka.
Aku tahu, bangunan yang runtuh
tak mudah dibangun kembali.
Puing-puing berserakan,
batu-batu berceceran.

Namun aku yakin,
suatu saat nanti
ia akan berdiri kembali
menjadi bangunan yang indah.

Karena fajar pagi hari
takkan pernah terlambat
untuk bersinar.
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "Kebahagiaan hanyalah hayalan yang datang seperti angin"

Post a Comment

Featured Post

Versi yang Tak Perlu Disamakan

  Judul: Versi yang Tak Perlu Disamakan Di sebuah kampung kecil di Papua Barat, tinggal seorang pemuda bernama Nando. Sejak kecil, ia selalu...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

------------