Versi yang Tak Perlu Disamakan

Versi yang Tak Perlu Disamakan

 
Judul: Versi yang Tak Perlu Disamakan

Di sebuah kampung kecil di Papua Barat, tinggal seorang pemuda bernama Nando. Sejak kecil, ia selalu mendengar satu kalimat yang sama dari banyak orang:

“Kalau mau bahagia, ikut jejak si ini.”
“Kalau mau berhasil, harus seperti si itu.”

Lama-kelamaan, Nando mulai percaya bahwa kebahagiaan adalah seragam—punya bentuk yang sama untuk semua orang.

Ia melihat teman-temannya merantau ke kota, bekerja di kantor besar, memamerkan foto-foto dengan pakaian rapi dan senyum lebar. Di kampung, Nando hanya membantu ayahnya berkebun dan sesekali melaut. Setiap kali membuka media sosial, hatinya terasa sesak.

“Sa harus jadi seperti mereka, baru bisa bahagia,” pikirnya.

Akhirnya, Nando memutuskan pergi ke kota. Ia bekerja di sebuah perusahaan, mengenakan sepatu mengilap dan kemeja mahal. Gajinya lumayan. Orang-orang memujinya ketika ia pulang kampung.

“Tuh, Nando sudah berhasil!”

Namun, setiap malam di kamar kos yang sempit, ia merasa kosong. Ia rindu suara ombak. Rindu bau tanah basah setelah hujan. Rindu tawa ibunya di dapur kayu.

Suatu malam, setelah lembur panjang, ia duduk sendirian di halte. Lelah bukan hanya di badan, tapi di hati. Saat itulah ia sadar—ia sedang hidup dengan versi orang lain.

Ia tersenyum pahit.

“Sa ini capek jadi orang lain.”

Beberapa bulan kemudian, Nando memutuskan kembali ke kampung. Banyak yang heran.

“Kenapa pulang? Di kota kan masa depan lebih jelas?”

Nando hanya menjawab pelan, “Masa depan yang jelas belum tentu bikin hati terang.”

Ia mulai mengembangkan kebun keluarganya dengan cara baru. Ia belajar teknik pertanian modern lewat internet. Ia menjual hasil panen langsung ke kota. Ia juga membuka kelas kecil untuk anak-anak kampung yang ingin belajar membaca dan menulis.

Penghasilannya mungkin tak sebesar di kota. Tapi setiap pagi ia bangun dengan hati ringan. Ia bekerja sambil mendengar burung-burung bernyanyi. Sore hari, ia duduk di tepi pantai, memandangi matahari tenggelam tanpa merasa dikejar apa-apa.

Suatu hari, seorang temannya bertanya,
“Ko benar-benar bahagia kah di sini?”

Nando tersenyum, kali ini tanpa ragu.
“Bahagia itu bukan soal tempat. Tapi soal cocok atau tidak dengan diri sendiri.”

Ia akhirnya mengerti satu hal sederhana namun penting:

Kebahagiaan bukan lomba.
Bukan juga fotokopi kehidupan orang lain.

Kebahagiaan adalah ketika kita berani berkata,
“Inilah versiku.”

Sejak hari itu, Nando tak lagi membandingkan hidupnya dengan siapa pun. Ia menciptakan kebahagiaannya dengan versinya sendiri—dan itu lebih dari cukup.
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "Versi yang Tak Perlu Disamakan"

Post a Comment

Featured Post

Versi yang Tak Perlu Disamakan

  Judul: Versi yang Tak Perlu Disamakan Di sebuah kampung kecil di Papua Barat, tinggal seorang pemuda bernama Nando. Sejak kecil, ia selalu...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

------------