Rupiah, Perintah Otak, dan Lembur Malam

Rupiah, Perintah Otak, dan Lembur Malam

Rupiah, Perintah Otak, dan Lembur Malam
Judul: Rupiah, Perintah Otak, dan Lembur Malam


Di ruang kerja kecil yang hanya menerangi lampu meja, Nara menatap layar komputer yang sudah menampilkan angka-angka sejak sore. Matanya perih, punggungnya pegal, tetapi jarinya tetap menari di atas keyboard. Sudah tiga malam berturut-turut ia lembur, mengejar target yang tak pernah selesai.

Di luar jendela, kota sudah tertidur. Namun di dalam kepalanya, otaknya justru semakin bising.

“Kerja lagi. Tambah sedikit lagi. Rupiah, Perintah Otak,” suara itu berulang, seperti perintah yang tidak pernah berhenti.

Nara tertawa kecil, lelah. “Rupiah perintah otak,” gumamnya. Setiap angka di layar itu seperti tali yang menarik lebih dalam: uang kontrakan, uang sekolah adik, biaya makan, tabungan darurat. Semua membuatnya kembali duduk pada saat yang seharusnya ia bisa berbaring.

Lembur malam menjadi rutinitas. Kadang-kadang ia bertanya pada dirinya sendiri: sampai kapan?

Namun ia tahu satu hal: ia tidak bekerja untuk mengejar kemewahan, hanya untuk bertahan. Dan bertahan, itulah bentuk keberanian.

Di sela rasa kantuk, Nara menatap selai dinding. Sudah lewat pukul dua pagi. Pada detik tertentu, ia ingin menyerah, menutup semua, berhenti sejenak. Tapi otaknya kembali memberi perintah lain: "Sedikit lagi. Besok pasti lebih ringan kalau malam ini selesai."

Ia menarik napas, lalu kembali mengetik. Bukan karena dia tidak lelah, tapi karena dia tahu hidup sering meminta kita bergerak meski ingin berhenti.

Ketika akhirnya pekerjaan selesai, Nara mematikan komputer dan bersandar. Keheningan malam terasa berbeda—bukan ancaman, tetapi ruang bagi tubuhnya untuk melepaskan beban.

“Lembur malam,” katanya pelan, “terkadang menyiksa, tapi juga menguatkan.”

Di luar sana, matahari masih jauh sebelum terbit. Namun Nara merasakan tenang. Meski hidup menuntut banyak rupiah, meski otak terus memerintah, ia tahu satu hal: setiap malam yang berhasil ia lalui adalah bukti bahwa ia masih bertahan.

Dan untuknya, itu sudah cukup.
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "Rupiah, Perintah Otak, dan Lembur Malam"

Post a Comment

Featured Post

Sinergitas PW GKI Paulus Soroan

GKI di Tanah Papua menetapkan tahun 2025 sebagai Tahun Kesehatian . Yang dimaksud dengan Tahun Kesehatian adalah penekanan pada sinergitas p...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel