Ketika Fanatik Itu Retak
November 10, 2025
Add Comment
Judul : Ketika Fanatik Itu Retak
Di sebuah kampung kecil yang tenang, tinggal seorang pemuda bernama Randi. Ia dikenal keras kepala. Apa pun yang ia yakini, akan dibelanya mati-matian, bahkan ketika orang lain mencoba menunjukkan bukti bahwa ia keliru. Bagi Randi, mengubah pendapat berarti mengakui kekalahan, dan itu adalah hal yang paling ia benci.
Suatu sore, di beranda rumah tua milik Ama Pehan, terjadi percakapan sederhana yang akhirnya mengubah banyak hal. Angin datang dari arah sungai, membawa suara dedaunan yang saling bergesekan.
“Ama, kenapa orang sering marah kalau dengar kebenaran?” tanya Rani, kesal setelah berdebat panjang dengan teman-temannya di balai kampung.
Ama Pehan menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis. “Terkadang orang tidak ingin mendengar kebenaran, Randi.”
“Kenapa?”
“Karena mereka tidak ingin melihat fanatiknya hancur,” jawab Ama pelan, tetapi tajam.
Randi terdiam. Kata-kata itu terasa seperti batu yang jatuh di hatinya. Ama Pehan melanjutkan, “Keyakinan itu seperti rumah yang kita bangun lama. Saat ada yang bilang pondasinya retak, kita lebih memilih menutup telinga daripada memperbaikinya. Bukan karena kita benar, tapi karena kita takut.”
Di kejauhan, suara anak-anak memukul kaleng bekas terdengar riuh. Randi masih menunduk. “Berarti… selama ini saya juga begitu, Ama?”
Ama Pehan tidak menjawab. Ia hanya memandang mata Rani, seolah mengatakan bahwa jawaban itu harus Randi temukan sendiri.
Malam itu Randi pulang melewati jalan setapak menuju sungai. Bulan menggantung di atas air, memantulkan cahaya pucat. Ia berhenti di tepi, menatap bayangannya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia bertanya jujur dalam hati: apakah selama ini ia benar, atau hanya takut mengakui bahwa ia mungkin salah?
Angin malam menyentuh kulitnya, dingin tapi jernih. Randi menarik napas panjang. Mungkin kebenaran memang menyakitkan. Mungkin fanatik memang nyaman. Tapi diam-diam ia tahu, keberanian lahir dari kesediaan untuk meruntuhkan tembok yang ia bangun sendiri.
Dan malam itu, meski pelan, tembok itu mulai retak.

0 Response to "Ketika Fanatik Itu Retak"
Post a Comment