Malam yang Menyesakkan
April 14, 2026
Add Comment
Malam yang Menyesakkan
Bagi kebanyakan orang, malam adalah waktu untuk melepas penat dan beristirahat. Namun, bagi Stella, senja yang perlahan meredup justru menjadi awal dari siklus yang menyesakkan dada.
Setiap kali matahari terbenam dan bayang-bayang mulai memanjang di dinding kamarnya, kecemasan perlahan menyelimuti dirinya. Malam bukan lagi tentang kedamaian, melainkan tentang sebuah “tugas” yang terasa tak berujung.
Ruang Kedap Suara yang Melelahkan
Stella sering duduk di tepi ranjang, menatap seprai yang rapi dengan perasaan getir. Suaminya—sosok yang di mata dunia tampak sempurna—menyimpan sisi lain yang hanya Stella kenal di balik pintu kamar yang tertutup.
Keintiman yang seharusnya menjadi wujud kasih sayang dua arah, telah berubah menjadi maraton yang menguras fisik dan mentalnya. Sejak lampu dipadamkan hingga semburat fajar menyentuh jendela, suaminya seolah tak pernah merasa cukup.
Stella mulai merasa tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri. Keinginan dan rasa lelahnya selalu kalah oleh tuntutan yang harus segera dipenuhi.
Di tengah sunyi malam, hanya terdengar detak jam dinding dan napas berat suaminya. Sementara itu, Stella menatap langit-langit kamar, menghitung waktu—menunggu pagi datang sebagai satu-satunya jeda.
Pagi yang Pucat
Saat alarm berbunyi atau cahaya matahari menyelinap melalui celah gorden, Stella akhirnya bisa bernapas lega—meski tubuhnya terasa remuk.
Ia bangun dengan mata sembap dan sisa kesedihan yang belum sempat mengering. Pagi hari dijalaninya seperti biasa, dengan wajah tenang dan peran sebagai istri yang tetap ia jalankan.
Namun di dalam hatinya, Stella sudah mulai menghitung mundur waktu hingga malam kembali tiba. Baginya, setiap detik di siang hari hanyalah jeda singkat sebelum kembali menghadapi siklus yang sama.
“Kesedihan Stella bukan karena ia tidak mencintai, melainkan karena ia merasa telah kehilangan dirinya sendiri di dalam kamar itu.”

0 Response to "Malam yang Menyesakkan"
Post a Comment