mimpinya terlalu jauh

mimpinya terlalu jauh

 
Siang itu hujan turun pelan, membasahi jendela kamar yang sempit. Di atas meja, ada secangkir kopi yang sudah dingin dan sebuah buku catatan tipis dengan beberapa halaman terlipat. Isinya bukan rencana besar atau target muluk—hanya coretan kecil: hari ini menulis satu halaman, unggah satu konten, belajar sepuluh menit.

Dulu, ia sering kecewa. Merasa langkahnya terlalu lambat, mimpinya terlalu jauh. Ia membandingkan diri dengan orang lain yang tampak melesat, sementara dirinya masih di tempat yang sama. Sampai suatu hari, ia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.

Ternyata, ia sudah berjalan.

Satu halaman yang ditulis kemarin membuatnya lebih berani menulis hari ini. Satu konten yang sepi tetap mengajarinya konsistensi. Sepuluh menit belajar pelan-pelan menumpuk menjadi pemahaman. Kecil, memang. Tapi nyata.


Ia tersenyum, menutup buku catatan, lalu menambahkan satu baris baru: bersyukur hari ini. Karena ia sadar, pencapaian kecil bukanlah hal remeh. Mereka adalah fondasi—batu demi batu—yang suatu hari akan menopang mimpi yang jauh lebih besar.

Dan dengan langkah sederhana itu, ia melanjutkan perjalanan
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "mimpinya terlalu jauh"

Post a Comment

Featured Post

mimpinya terlalu jauh

  Siang itu hujan turun pelan, membasahi jendela kamar yang sempit. Di atas meja, ada secangkir kopi yang sudah dingin dan sebuah buku catat...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

------------