ko pu cape

ko pu cape

 
Di sebuah kabupaten kecil di timur Indonesia, orang-orang sedang sibuk membicarakan pemilihan kepala daerah. Spanduk warna-warni bergantungan di sepanjang jalan. Wajah para calon tersenyum lebar dari baliho, seolah tak pernah kenal lelah.

Di antara mereka, ada satu nama yang paling sering disebut: Bima Lodewyk.

Bima bukan orang baru di dunia politik. Ia pernah menjadi anggota dewan, pernah juga kalah dalam perebutan kursi wakil bupati. Tahun ini, ia kembali maju sebagai calon kepala daerah. Banyak yang bilang, “Bima itu capeh sudah. Dari dulu maju terus.” Tapi Bima sendiri tahu, yang membuatnya capeh bukan sekadar kampanye. Yang melelahkan adalah tekanan, janji, dan tuntutan dari banyak pihak.

Suatu malam, setelah seharian blusukan ke kampung-kampung, Bima duduk termenung di teras rumahnya. Bajunya masih berdebu, suaranya serak karena terlalu banyak berbicara. Istrinya menyodorkan teh hangat.

“Ko capeh sekali,” katanya pelan.

Bima mengangguk. “Capaian orang itu berat, mama. Semua mau didengar, semua mau dibantu. Kadang sa rasa mau marah saja.”

Keesokan harinya, saat rapat tim sukses, emosinya meledak. Ia membentak seorang relawan muda yang dianggap lambat mengurus logistik kampanye.

“Ko kerja macam ini bagaimana kita mau menang?!” suaranya keras, membuat ruangan hening.

Relawan itu tertunduk. Wajahnya merah, bukan karena marah, tapi menahan malu. Ia sebenarnya sudah bekerja sejak subuh, bahkan belum sempat makan.

Di sudut ruangan, seorang tokoh adat tua yang ikut mendukung Bima berdiri perlahan. Namanya Pak Mikael.

“Bima,” katanya tenang, “intinya satu. Jang pernah jadikan ko pu capeh itu sebagai alasan untuk jadi egois. Karena semua orang juga capeh.”

Semua mata tertuju pada Pak Mikael.

“Ko capeh karena kampanye. Dia capeh karena urus logistik. Rakyat capeh karena tiap hari kerja kebun, cari ikan, jual pinang. Jadi kalau ko marah karena ko capeh, nanti orang lain jadi korban ko pu capeh itu.”

Kata-kata itu seperti tamparan halus. Bima terdiam. Ia melihat relawan muda tadi—anak itu menunduk, tangannya gemetar.

Rapat berakhir tanpa banyak suara. Malamnya, Bima tak bisa tidur. Ia teringat masa kecilnya di kampung, saat ayahnya pulang dari kebun dengan badan penuh lumpur tapi tetap tersenyum pada anak-anaknya.

“Ayah juga capeh,” gumamnya, “tapi tra pernah marah sembarang.”

Besok paginya, Bima datang lebih awal ke posko. Ia mencari relawan muda itu.

“Sa minta maaf kemarin,” katanya tulus. “Sa capeh, tapi itu bukan alasan untuk sa jadi keras.”

Relawan itu terkejut, lalu tersenyum kecil. “Sa juga capeh, Pak. Tapi kita mau perubahan.”

Sejak hari itu, Bima mengubah caranya memimpin tim. Ia tetap tegas, tapi tak lagi melampiaskan lelahnya pada orang lain. Setiap kali emosi mulai naik, ia teringat kata-kata Pak Mikael: semua orang juga capeh.

Hari pemilihan pun tiba. Hasilnya belum tentu berpihak padanya. Tapi bagi Bima, ada kemenangan yang lebih penting: ia belajar bahwa menjadi pemimpin bukan soal siapa yang paling kuat menahan lelah, melainkan siapa yang mampu menjaga hati tetap luas meski badan terasa berat.

Karena dalam politik kepala daerah, yang paling berbahaya bukanlah lawan di luar—melainkan ego yang lahir dari rasa capeh sendiri.
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "ko pu cape"

Post a Comment

Featured Post

Sa Masih Ingat Ko, Mama

Semua karena ko ee… sa jadi begini. Dengar lagu sedikit saja, hati sa langsung padede, mata panas, dada sesak. Ko pergi tra bilang apa-apa. ...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

------------